Saya hampir tidak pernah menulis reviu film. Hubungan saya dan film yang saya tonton berakhir ketika kaki saya keluar dari pintu bioskop atau halaman browser saya tutup. Kalaupun ada film yang membekas di pikiran saya, saya hanya akan membaca pembahasan atau meme dari film tersebut di media sosial. Namun kali ini berbeda, ada film yang membuat saya berapi-api ingin menulis ulasannya.
Jika mendengar kata “film romansa Indonesia”, mungkin yang terlintas di kepala kita adalah drama percintaan klise dengan konflik orang ketiga atau restu orang tua. Tapi bagaimana jika bumbu utamanya bukan konflik keluarga, melainkan perjalanan waktu?
Inilah yang ditawarkan oleh film “Sore: Istri dari Masa Depan” (2025).
Awalnya patut diakui bahwa saya cukup skeptis mendengar adanya film ini, mengingat saya sebelumnya sudah pernah menonton webseries berjudul dan bertema, dan diperankan oleh aktor yang sama pada tahun 2017, dan menyangka bahwa ini hanyalah proyek daur ulang dari basis cerita yang sudah ada sebelumnya demi profit. Namun membaca nama Yandy Laurens di kolom Sutradara membuat saya menimbang-nimbang. Sebelumnya Yandy pernah membuat saya terkesima di Jatuh Cinta Seperti di Film-film (2023). Agaknya adalah pilihan yang rasional untuk berekspektasi dan mencoba menonton film ini.
Hanya niat saja tidak cukup, ada-ada saja halangan untuk menonton film ini. Kesibukan yang tidak putus-putus membuat saya dan istri memutuskan untuk setia menunggu “Sore: Istri dari Masa Depan” tayang di streaming service. Hasilnya? Kami kecewa sekaligus senang. Kecewa karena seharusnya kami lebih berusaha menyempatkan waktu untuk menonton sebuah karya yang seharusnya ditonton di bioskop, dan senang karena ternyata perfilman dalam negeri sudah bisa mencapai level sebaik ini.
Sinopsis Singkat
Film ini menceritakan Jonathan (Dion Wiyoko), seorang fotografer yang hidupnya cukup berantakan. Rutin konsumsi rokok dan alkohol, jam tidurnya kacau, dan sepertinya tidak terlalu peduli dengan masa depan. Tiba-tiba, muncul seorang wanita misterius bernama Sore (Sheila Dara) yang mengaku sebagai istrinya dari masa depan.
Misi Sore sederhana tapi berat: memastikan Jonathan memperbaiki gaya hidupnya agar tidak mati muda. Terdengar konyol bagi Jonathan, tapi perlahan Sore mulai membuktikan klaimnya dengan mengetahui detail-detail kecil yang hanya diketahui Jonathan sendiri.
Dari sinilah dinamika mereka terbangun. Bukan tentang “bagaimana mereka jatuh cinta”, tapi “mengapa cinta itu layak diperjuangkan melintasi waktu”.
Chemistry yang Mahal
Harus diakui, nyawa film ini ada pada duo pemeran utamanya. Dion Wiyoko dan Sheila Dara punya chemistry yang luar biasa natural. Bakat akting yang luar biasa dari Sheila dan pengalaman Dion yang sudah pernah memerankan karakter ini di versi web series-nya tahun 2017 menjadikan interaksi antar karakter terasa sangat luwes.

Sheila Dara berhasil membawakan karakter Sore yang misterius namun hangat. Ia tidak terjebak menjadi karakter “istri cerewet” yang menyebalkan, tapi justru menjadi sosok yang membuat kita (dan Jonathan) berpikir ulang tentang arti pengorbanan dan kesabaran. Dion pun berhasil menyeimbangkannya dengan karakter Jonathan yang stubborn tapi kompleks dengan segala masalah di masa lalunya.
Visual dan Penceritaan

Salah satu hal yang paling memanjakan mata adalah sinematografinya. Syuting yang dilakukan di Kroasia dan Finlandia memberikan tone warna yang sejuk dan melankolis, sangat pas dengan nuansa filmnya. Yandy Laurens tidak terjebak untuk mengeksploitasi pemandangan turis semata, tapi menjadikannya latar yang mendukung kesunyian dan keintiman cerita.
Yandy juga berhasil memantik empati penonton dengan penceritaan yang didesain dengan rapi. Seperti pada setiap scene Sore memulai kembali loop-nya setelah mati (atau pingsan?) di lini waktu sebelumnya, penonton ikut merasakan lelah dan kebosanan yang dirasakan sore dalam ikhtiarnya memperbaiki hidup Jonathan. Saya turut menghela nafas setiap sore bangun kembali di tempat tidur pada pukul 08.25 pagi.

Namun, ada sedikit catatan. Bagi Anda penggemar hard sci-fi ala “Tenet” atau “Interstellar”, mungkin akan sedikit kecewa. Mekanisme time loop dan perjalanan waktunya tidak dijelaskan secara ilmiah mendalam. Film ini lebih fokus pada aspek emosionalnya ketimbang aturan fisika kuantumnya. Tapi menurut saya, itu justru keputusan yang tepat. Terlalu banyak eksposisi teknis malah akan membunuh mood romantisnya, karena pada fitrahnya film ini adalah film romansa.
Musik sebagai Penuntun Emosi
Satu elemen yang tidak bisa diabaikan dari film ini adalah musiknya. Yandy Laurens sepertinya paham betul bahwa untuk film yang minim efek CGI, musik adalah “special effect” yang sesungguhnya.
Soundtrack diisi oleh nama-nama yang sudah akrab di telinga pecinta musik indie Indonesia. Lagu “Forget Jakarta” dari Adhitia Sofyan sukses membangun nuansa melankolis yang kental, seolah mewakili perasaan rindu dan kenangan yang tertinggal. Sementara itu, Barasuara lewat “Terbuang Dalam Waktu” memberikan suntikan energi pada momen-momen konflik yang intens.

Pemilihan lagunya terasa sangat personal dan intentional. Tidak sekadar tempelan agar tidak sepi, tapi benar-benar menjadi penuntun emosi penonton. Musik di sini bertugas menjelaskan apa yang tidak terucap oleh dialog karakter.
Lagu “Pancarona” dari Barasuara contohnya, berhasil memindahkan semua emosi dan rasa lelah Sore pada Penonton. Pace film meningkat drastis. Kita yang awalnya mengira bahwa Jonathan adalah si pemeran utama, ternyata sangat-sangat keliru. Semua ini tentang Sore.

Perhatian pada Detail
Bukan Yandy Laurens sepertinya jika tidak punya attention to detail yang apik. Setelah memutar ulang film ini berkali-kali dan pause pada frame-frame tertentu, ternyata banyak hal-hal kecil yang terlewat oleh saya ketika menontonnya pada kali pertama. Seperti gaun yang dipakai Sore ketika bangun di awal loop-nya yang memiliki motif salju dan tetesan air, melambangkan hamparan salju dan air mata yang menetes saat dia membuat perjanjian dengan “waktu”.

Atau pakaian-pakaian yang dipakai sore di berbagai adegan yang ternyata saya sadari adalah pakaian milik Jo yang dimodifikasi oleh Sore (dengan skill desainer fashionnya tentu saja). Masih banyak lagi detail-detail kecil yang bisa ditemukan ketika memutar ulang film ini. Terima kasih saya pada pihak-pihak yang telah memungkinkan film ini tersedia di platform streaming.
Kesimpulan
Bagi saya “Sore: Istri dari Masa Depan” adalah angin segar di perfilman tanah air. Film ini mengingatkan kita pada hakikatnya pasangan kita hanya menginginkan hal-hal yang terbaik bagi kita. Sesederhana sehat selalu dan tidak mati muda.
Film ini hangat, menyentuh, dan untungnya, tidak cengeng. Di hari tulisan ini terbit, film Sore: Istri dari Masa Depan sudah bisa ditonton di Netflix. Sangat layak ditonton bersama pasangan (atau calon pasangan dari masa depan, kalau ada).
Penutup
Mungkin saya akan terdengar sangat oversell film ini. Namun pada akhirnya ini benar-benar satu dari sedikit film yang berhasil membuat saya merenung sepanjang akhir pekan.
Memasuki kamar setelah menonton, saya melirik istri saya yang tertidur di tempat tidur. Andaikan saya dia kembali ke masa lalu dan menuntut saya, kebiasaan buruk apa yang akan saya perbaiki untuknya? Alih-alih sekadar menghibur, film Sore bagi saya turut menjadi cermin. Cermin yang memaksa saya bertanya: apakah orang yang saya cintai layak mendapatkan versi terbaik dari diri saya?



