Bagi sebagian orang, kata “gunung” mungkin langsung membayangkan puncak yang tinggi menjulang, jalur terjal berbatu, dan persiapan yang tidak main-main. Namun Gunung Padang berbeda. Bukit kecil yang terletak di pusat Kota Padang ini menawarkan pengalaman “hiking” yang sangat ramah untuk siapapun, termasuk untuk orang seperti saya yang jarang berolahraga.
Kali ini, saat berkunjung ke kampung halaman, saya menyempatkan diri untuk menapaki Gunung Padang. Niat awalnya sederhana: olahraga tipis-tipis sambil menikmati udara segar seperti Jonathan dan Sore. Ternyata yang saya dapatkan lebih dari sekadar keringat.
Tentang Gunung Padang
Gunung Padang sebenarnya bukan gunung dalam arti sebenarnya. Objek ini lebih tepat disebut bukit dengan ketinggian sekitar 90 meter di atas permukaan laut. Lokasinya bisa dibilang strategis, berada tepat di ujung Kota Padang yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.
Bukit ini menyimpan sejarah panjang. Pada masa kolonial Belanda, Gunung Padang dijadikan pos pertahanan untuk mengawasi kapal-kapal yang masuk ke Muaro Padang. Hingga kini, sisa-sisa peninggalan masa itu masih bisa ditemukan di beberapa sudut bukit.
Lokasi dan Akses
Gunung Padang terletak di Kelurahan Padang Barat, tepat di belakang kawasan Pantai Padang yang ramai. Aksesnya sangat mudah—dari pusat kota hanya membutuhkan waktu sekitar 10-15 menit berkendara. Jalur naik bisa dimulai dari sudut utara Taman Hijau Siti Nurbaya.
Pengalaman Hiking
Jalur yang Ramah Pemula
Yang saya sukai dari Gunung Padang adalah jalurnya yang tidak intimidatif. Total jalur yang tersedia hanya sekitar 1,17 kilometer, dan saya menempuhnya dalam waktu lebih dari 35 menit. Tentu saja ini bukan soal kecepatan, namun jalan santai sambil menikmati suasana. Sebagian besar lintasan sudah dipasang pavement, walaupun ada beberapa bagian yang masih berupa tanah berbatu. Untuk orang yang belum begitu rutin berolahraga seperti saya, jalur ini ideal, cukup membuat berkeringat tapi tidak sampai ngos-ngosan berlebihan.

Di beberapa bagian, jalur turun sedikit lebih menantang karena akar-akar pohon yang menonjol dari tanah. Sepatu yang tepat sangat membantu, walaupun banyak orang berlalu-lalang yang saya lihat hanya memakai sandal. Kebanyakan adalah pedagang dan warga sekitar. Mungkin karena sudah biasa.
Hal-Hal Menarik di Sepanjang Jalur
Salah satu kejutan manis selama perjalanan adalah menemukan cangkang keong (atau mungkin siput) berukuran sedang yang tergeletak di pinggir jalan setapak. Entah dari mana asalnya, tapi bentuk spiralnya yang sempurna membuat saya berhenti sejenak untuk mengabadikan.

Gunung Padang juga menjadi rumah bagi dua populasi primata. Yang paling sering terlihat adalah Karo (Macaca fascicularis), monyet ekor panjang yang cukup berani mendekati pengunjung. Jadi hati-hati dengan makanan Anda. Yang lebih langka dan dilindungi adalah Lutung Kelabu atau yang disebut warga lokal sebagai Cingkuak (Trachypithecus cristatus). Lutung ini lebih pemalu dan suka bersembunyi di pepohonan, jadi butuh sedikit keberuntungan untuk bisa melihatnya.
Sepanjang perjalanan, udara terasa segar berkat rimbunnya pepohonan. Ditambah lagi dengan angin sepoi-sepoi yang datang langsung dari Samudera Hindia. Gunung Padang memang menjadi paru-paru kota yang sangat vital bagi warga Padang. Di tengah hiruk-pikuk kota, tempat seperti ini terasa sangat berharga.
Peninggalan Bersejarah
Bagi penggemar sejarah, Gunung Padang adalah surga kecil. Di sini terdapat beberapa bangunan peninggalan kolonial Belanda yang masih berdiri kokoh. Bangunan-bangunan ini dahulu digunakan sebagai benteng pertahanan dan tempat penyimpanan amunisi.

Yang paling menarik perhatian saya adalah meriam tua yang masih tersimpan di dalam bunker. Meriam ini konon dulunya digunakan untuk mengawasi dan melindungi perairan Muaro Padang dari serangan musuh. Melihat meriam ini, saya jadi membayangkan bagaimana situasi pertahanan ratusan tahun yang lalu.

Pemandangan yang Memanjakan Mata
Titik puncak Gunung Padang menawarkan pemandangan 360 derajat yang luar biasa. Dari sini, kita bisa melihat hamparan Kota Padang yang membentang dari kaki bukit hingga ke pegunungan di kejauhan. Atap-atap rumah warga, gedung-gedung perkantoran, dan deretan pepohonan hijau berpadu menjadi panorama yang indah.

Di sisi lain, kita bisa menikmati pemandangan ke arah laut. Menara suar berwarna merah yang berdiri tegak di tengah perairan menjadi penanda kawasan Muaro Padang. Di balik itu, siluet pegunungan samar-samar terlihat di ufuk yang jauh.

Tips Berkunjung
Dari pengalaman saya, berikut beberapa tips yang mungkin berguna:
- Pakaian: Gunakan pakaian yang nyaman dan sepatu yang grip-nya bagus. Jalur turun bisa licin setelah hujan.
- Hidrasi: Bawa air minum yang cukup. Walaupun jalurnya pendek, tetap butuh hidrasi.
- Kamera: Jangan lupa bawa kamera atau smartphone dengan baterai penuh. Banyak spot foto yang sayang untuk dilewatkan.
- Makanan: Jika membawa makanan, pastikan disimpan dengan baik di dalam tas atau kantong, karena banyak monyet yang bisa saja mencoba merebutnya.
Yang Harus Diperhatikan
Untuk masuk ke kawasan Gunung Padang, pengunjung dikenakan biaya yang sangat terjangkau:
| Item | Harga |
|---|---|
| Tiket Dewasa | Rp10.000 |
| Tiket Anak-anak | Rp5.000 |
Pembayaran juga bisa dilakukan via QRIS, sangat praktis bagi yang tidak membawa uang tunai.
Akhir Kata
Gunung Padang membuktikan bahwa tidak perlu perjalanan jauh atau persiapan rumit untuk menikmati alam dan berolahraga. Cukup dengan waktu setengah hingga satu jam, kita sudah bisa mendapatkan keringat, pemandangan indah, dan sedikit pelajaran sejarah.
Bagi warga Padang atau siapapun yang sedang berkunjung ke kota ini, Gunung Padang layak masuk ke dalam itinerary. Anggap saja sebagai pemanasan sebelum menjelajahi kuliner Padang yang terkenal berat dan berlemak. Setidaknya, ada sedikit justifikasi untuk kalori ekstra yang akan masuk.



