kelana

Olahraga Tipis-Tipis di Gunung Padang

January 14, 2026 · 5 min read
Olahraga Tipis-Tipis di Gunung Padang

Bagi sebagian orang, kata “gunung” mungkin langsung membayangkan puncak yang tinggi menjulang, jalur terjal berbatu, dan persiapan yang tidak main-main. Namun Gunung Padang berbeda. Bukit kecil yang terletak di pusat Kota Padang ini menawarkan pengalaman “hiking” yang sangat ramah untuk siapapun, termasuk untuk orang seperti saya yang jarang berolahraga.

Kali ini, saat berkunjung ke kampung halaman, saya menyempatkan diri untuk menapaki Gunung Padang. Niat awalnya sederhana: olahraga tipis-tipis sambil menikmati udara segar seperti Jonathan dan Sore. Ternyata yang saya dapatkan lebih dari sekadar keringat.

Tentang Gunung Padang

Gunung Padang sebenarnya bukan gunung dalam arti sebenarnya. Objek ini lebih tepat disebut bukit dengan ketinggian sekitar 90 meter di atas permukaan laut. Lokasinya bisa dibilang strategis, berada tepat di ujung Kota Padang yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.

Bukit ini menyimpan sejarah panjang. Pada masa kolonial Belanda, Gunung Padang dijadikan pos pertahanan untuk mengawasi kapal-kapal yang masuk ke Muaro Padang. Hingga kini, sisa-sisa peninggalan masa itu masih bisa ditemukan di beberapa sudut bukit.

Lokasi dan Akses

Gunung Padang terletak di Kelurahan Padang Barat, tepat di belakang kawasan Pantai Padang yang ramai. Aksesnya sangat mudah—dari pusat kota hanya membutuhkan waktu sekitar 10-15 menit berkendara. Jalur naik bisa dimulai dari sudut utara Taman Hijau Siti Nurbaya.

Pengalaman Hiking

Jalur yang Ramah Pemula

Yang saya sukai dari Gunung Padang adalah jalurnya yang tidak intimidatif. Total jalur yang tersedia hanya sekitar 1,17 kilometer, dan saya menempuhnya dalam waktu lebih dari 35 menit. Tentu saja ini bukan soal kecepatan, namun jalan santai sambil menikmati suasana. Sebagian besar lintasan sudah dipasang pavement, walaupun ada beberapa bagian yang masih berupa tanah berbatu. Untuk orang yang belum begitu rutin berolahraga seperti saya, jalur ini ideal, cukup membuat berkeringat tapi tidak sampai ngos-ngosan berlebihan.

Jalur hiking di Gunung Padang
Jalur yang teduh dan nyaman untuk hiking ringan

Di beberapa bagian, jalur turun sedikit lebih menantang karena akar-akar pohon yang menonjol dari tanah. Sepatu yang tepat sangat membantu, walaupun banyak orang berlalu-lalang yang saya lihat hanya memakai sandal. Kebanyakan adalah pedagang dan warga sekitar. Mungkin karena sudah biasa.

Hal-Hal Menarik di Sepanjang Jalur

Salah satu kejutan manis selama perjalanan adalah menemukan cangkang keong (atau mungkin siput) berukuran sedang yang tergeletak di pinggir jalan setapak. Entah dari mana asalnya, tapi bentuk spiralnya yang sempurna membuat saya berhenti sejenak untuk mengabadikan.

Cangkang keong di Gunung Padang
Temuan tak terduga: cangkang keong dengan spiral yang sempurna

Gunung Padang juga menjadi rumah bagi dua populasi primata. Yang paling sering terlihat adalah Karo (Macaca fascicularis), monyet ekor panjang yang cukup berani mendekati pengunjung. Jadi hati-hati dengan makanan Anda. Yang lebih langka dan dilindungi adalah Lutung Kelabu atau yang disebut warga lokal sebagai Cingkuak (Trachypithecus cristatus). Lutung ini lebih pemalu dan suka bersembunyi di pepohonan, jadi butuh sedikit keberuntungan untuk bisa melihatnya.

Sepanjang perjalanan, udara terasa segar berkat rimbunnya pepohonan. Ditambah lagi dengan angin sepoi-sepoi yang datang langsung dari Samudera Hindia. Gunung Padang memang menjadi paru-paru kota yang sangat vital bagi warga Padang. Di tengah hiruk-pikuk kota, tempat seperti ini terasa sangat berharga.

Peninggalan Bersejarah

Bagi penggemar sejarah, Gunung Padang adalah surga kecil. Di sini terdapat beberapa bangunan peninggalan kolonial Belanda yang masih berdiri kokoh. Bangunan-bangunan ini dahulu digunakan sebagai benteng pertahanan dan tempat penyimpanan amunisi.

Bangunan peninggalan Belanda di Gunung Padang
Bangunan kolonial Belanda yang masih terawat

Yang paling menarik perhatian saya adalah meriam tua yang masih tersimpan di dalam bunker. Meriam ini konon dulunya digunakan untuk mengawasi dan melindungi perairan Muaro Padang dari serangan musuh. Melihat meriam ini, saya jadi membayangkan bagaimana situasi pertahanan ratusan tahun yang lalu.

Meriam peninggalan Belanda
Meriam tua yang masih tersimpan di dalam bunker

Pemandangan yang Memanjakan Mata

Titik puncak Gunung Padang menawarkan pemandangan 360 derajat yang luar biasa. Dari sini, kita bisa melihat hamparan Kota Padang yang membentang dari kaki bukit hingga ke pegunungan di kejauhan. Atap-atap rumah warga, gedung-gedung perkantoran, dan deretan pepohonan hijau berpadu menjadi panorama yang indah.

Pemandangan Kota Padang dari Gunung Padang
Panorama Kota Padang dari ketinggian

Di sisi lain, kita bisa menikmati pemandangan ke arah laut. Menara suar berwarna merah yang berdiri tegak di tengah perairan menjadi penanda kawasan Muaro Padang. Di balik itu, siluet pegunungan samar-samar terlihat di ufuk yang jauh.

Menara suar Muaro Padang
Pemandangan menara suar dari puncak Gunung Padang

Tips Berkunjung

Dari pengalaman saya, berikut beberapa tips yang mungkin berguna:

  1. Pakaian: Gunakan pakaian yang nyaman dan sepatu yang grip-nya bagus. Jalur turun bisa licin setelah hujan.
  2. Hidrasi: Bawa air minum yang cukup. Walaupun jalurnya pendek, tetap butuh hidrasi.
  3. Kamera: Jangan lupa bawa kamera atau smartphone dengan baterai penuh. Banyak spot foto yang sayang untuk dilewatkan.
  4. Makanan: Jika membawa makanan, pastikan disimpan dengan baik di dalam tas atau kantong, karena banyak monyet yang bisa saja mencoba merebutnya.

Yang Harus Diperhatikan

Untuk masuk ke kawasan Gunung Padang, pengunjung dikenakan biaya yang sangat terjangkau:

ItemHarga
Tiket DewasaRp10.000
Tiket Anak-anakRp5.000

Pembayaran juga bisa dilakukan via QRIS, sangat praktis bagi yang tidak membawa uang tunai.

Akses Mudah: Dekat dengan pusat kota, bisa dijangkau dari mana saja.
Murah: Hanya Rp10.000 untuk dewasa dan Rp5.000 untuk anak, bisa bayar via QRIS.
Relatif Bersih: Kawasan terjaga kebersihannya.
Jalur Naik Baik: Jalan dari pintu masuk menuju puncak sudah menggunakan pavement, tidak licin.
Minim Petugas: Tidak terlihat petugas yang berjaga, setidaknya pada saat saya berkunjung.
Tidak Ada CCTV: Padahal penting untuk keamanan mengingat tidak adanya petugas jaga.
Jalur Turun Jelek: Jalan turun dari puncak ke pintu keluar masih buruk, licin dan berlumpur jika musim hujan.
Tutup Jam 5 Sore: Tidak bisa disinggahi untuk menikmati sunset karena tidak bertepatan dengan jadwal matahari terbenam di Kota Padang.

Akhir Kata

Gunung Padang membuktikan bahwa tidak perlu perjalanan jauh atau persiapan rumit untuk menikmati alam dan berolahraga. Cukup dengan waktu setengah hingga satu jam, kita sudah bisa mendapatkan keringat, pemandangan indah, dan sedikit pelajaran sejarah.

Bagi warga Padang atau siapapun yang sedang berkunjung ke kota ini, Gunung Padang layak masuk ke dalam itinerary. Anggap saja sebagai pemanasan sebelum menjelajahi kuliner Padang yang terkenal berat dan berlemak. Setidaknya, ada sedikit justifikasi untuk kalori ekstra yang akan masuk.