Kira-kira pada akhir tahun 2021, muncul ketertarikan saya untuk mencoba menanam buah naga, walaupun sejujurnya saya tidak begitu suka rasa buah naga. Hampir semua buah naga yang saya beli di pasar terasa hambar dan kurang cita rasa. Maka dari itu saya menjadi tertarik ketika membaca bahwa banyak varietas-varietas unggul dari buah naga yang belum dijual bebas di pasaran, seperi buah naga Purple Haze.
Awalnya, saya sebenarnya berniat membeli bibit varietas Golden Isis, yang dikenal dengan buahnya yang berwarna kuning cerah, rasa manis, dan aroma yang eksotis. Namun, sang penjual berbaik hati memberikan bonus beberapa cutting Purple Haze. Menurutnya, varietas ini diberikan sebagai “pasangan” penyerbuk bagi Golden Isis yang konon tidak bisa membuahi bunganya sendiri tanpa bantuan serbuk sari dari jenis lain. Keputusan bijak yang saya terima dengan senang hati.

Untuk opsi pengiriman, sebenarnya bibit buah naga tidak perlu dikirim dengan ekspedisi yang paling cepat, mengingat bibit buah naga yang paling sering dijual adalah bibit berbentuk cutting atau stek batang. Buah naga sendiri merupakan tumbuhan yang masih sekeluarga dengan kaktus, sehingga sangat tahan di perjalanan.
Penanaman Bibit Buah Naga Purple Haze
Bibit yang berupa cutting atau potongan batang ini saya tanam di dalam pot, mengingat lahan di rumah yang cukup terbatas. Salah satu kunci penting dalam menanam buah naga di pot adalah memastikan media tanam yang porous atau tidak menyimpan air berlebih, karena akarnya rentan busuk. Saya menggunakan campuran tanah, sekam bakar, dan pupuk kandang.
Karena buah naga adalah tanaman merambat (epifit), saya menyiapkan tiang panjat sederhana dari kayu bekas yang sengaja saya pilih yang ukurannya cukup besar agar kokoh. Di bagian atasnya, saya buatkan kerangka kotak dari kayu dengan jenis yang sama sebagai penyangga agar dahan-dahannya bisa menjuntai ke bawah nantinya. Karena konon, dahan yang menjuntai inilah yang akan memicu pembungaan.

Perawatan Si Kaktus Merambat
Merawat buah naga Purple Haze ternyata tidak serepot yang saya bayangkan. Sebagai keluarga kaktus, dia pecinta matahari sejati. Saya letakkan pot di rooftop yang terkena sinar matahari penuh sepanjang hari. Penyiraman pun saya lakukan santai saja, hanya ketika media tanam terlihat benar-benar kering. Terlalu sering disiram katanya malah membuatnya manja dan malas berbunga.
Pemupukan saya lakukan rutin setiap bulan dengan NPK seimbang, dan sesekali saya tambahkan pupuk kandang yang sudah difermentasi untuk menjaga kesuburan media tanam.
Penantian Bunga Pertama
Setelah menunggu kurang lebih satu tahun, akhirnya tanda-tanda kehidupan itu muncul. Kuncup bunga kecil mulai terlihat di ujung dahan yang menjuntai. Tidak dapat saya sembunyikan, rasanya senang bukan main.
Bunga buah naga ini unik, dia mekar sempurna hanya di malam hari (night blooming). Ukurannya besar, berwarna putih bersih dengan benang sari kuning yang mencolok, dan mengeluarkan aroma harum yang lembut. Sayangnya, kecantikannya hanya bertahan semalam. Begitu matahari terbit, bunganya akan layu.

Untuk varietas Purple Haze ini, saya membaca bahwa dia adalah varietas yang self-fertile atau bisa menyerbuk sendiri. Namun, untuk memastikan pembuahan berhasil, saya tetap bantu melakukan penyerbukan manual (hand pollination) di malam hari saat bunga sedang mekar-mekarnya. Hitung-hitung begadang demi buah impian.
Kebetulan bunga yang mekar menghasilkan serbuk sari yang sangat melimpah. Sayang rasanya jika dibuang begitu saja. Sebagian serbuk sari ini saya kumpulkan dan simpan di dalam wadah kedap udara, lalu saya masukkan ke kulkas (chiller). Polen ini akan saya gunakan nanti untuk menyerbuk silang koleksi buah naga saya yang lain, yaitu varietas Golden Isis, yang konon non self-fertile alias mandul jika tidak dibantu polen dari jenis lain.

Jari-jemari harus telaten memindahkan serbuk sari ke kepala putik. Rasanya seperti menjadi “lebah” dadakan di tengah malam.
Drama Rontok Bunga
Sebelum akhirnya berhasil memanen buah yang saya ceritakan di atas, saya sebenarnya sempat mengalami drama “rontok bunga” atau flower drop. Sudah senang melihat kuncup bunga yang besar, tiba-tiba malah menguning dan gugur sebelum mekar.
Setelah saya pelajari dan evaluasi, rontok bunga pada buah naga biasanya disebabkan oleh beberapa faktor:
- Stres Lingkungan: Kondisi cuaca yang ekstrem, ini sangat relevan dengan kondisi di berbagai wilayah di Indonesia beberapa bulan terakhir yang mengalami cuaca basah yang tidak henti-hentinya.
- Kekurangan Nutrisi: Tanaman butuh asupan unsur mikro seperti Boron serta asupan Fosfor dan Kalium yang cukup saat fase pembungaan.
- Penyiraman Tidak Konsisten: Kondisi media tanam yang terlalu basah (waterlogged) atau justru kekeringan saat tanaman sedang butuh energi besar untuk memekarkan bunga.
Tips Mencegah Rontok Bunga
Berdasarkan pengalaman saya (dan hasil berguru di komunitas), ini beberapa tips untuk meminimalisir rontok bunga:
- Pemberian Nutrisi Mikro: Saat mulai muncul kuncup, saya biasanya menambahkan pupuk yang mengandung Boron dan unsur mikro lainnya. Boron sangat krusial untuk memperkuat tangkai bunga agar tidak gampang lepas.
- Jaga Kelembaban Media: Pastikan penyiraman tetap rutin tapi jangan sampai becek. Di saat bunga mulai muncul, tanaman tidak boleh sampai layu karena kekeringan.
- Sirkulasi Udara: Pastikan dahan-dahan tidak terlalu rimbun atau saling tumpang tindih secara berlebihan agar sirkulasi udara di sekitar bunga tetap terjaga.
- Bantu Penyerbukan: Seperti yang saya lakukan, penyerbukan manual sangat membantu memastikan tingkat keberhasilan pembentukan buah menjadi sangat tinggi.
Saatnya Panen!
Sekitar 45 hari setelah bunga mekar, kulit buah sudah menjadi merah merona. Ini tandanya buah sudah siap panen. Ukurannya mungkin tidak sebesar buah naga di supermarket, tapi warnanya jauh lebih pekat.
Ketika dibelah, daging buahnya berwarna merah keunguan yang sangat intens (sesuai namanya, Purple Haze). Teksturnya lebih padat dan tidak terlalu berair.

Dan momen kebenaran pun tiba: mencicipi rasanya.
Ternyata rumor itu benar. Rasanya lumayan berbeda dengan buah naga biasa. Manisnya legit, ada sedikit sensasi berries, dan yang paling penting: tidak hambar. Ada karakter rasa yang kuat yang membuat saya akhirnya paham kenapa orang-orang menggandrungi varietas Purple Haze ini.

Menanam buah naga Purple Haze sendiri di rumah memberikan kepuasan tersendiri. Dari sekadar stek batang, tumbuh memanjat, berbunga indah di tengah malam, hingga akhirnya memberikan buah manis yang membayar lunas penantian saya. Bagi teman-teman yang punya sedikit lahan terkena matahari penuh, saya sangat menyarankan untuk mencoba menanam varietas ini.





