Stasiun Kereta Api Simpang Haru Padang
Travel

Mencoba Menjajal Kereta Bandara Padang – BIM

Sejak kecil, saya mengagumi kereta api. Walaupun tidak sampai ke level fanatik yang bisa mengetahui model dan nomor seri sebuah kereta api dengan sekali lihat, namun saya merasa cukup senang ketika melihat kereta api yang melintas. Bagi saya kereta api melambangkan keteraturan. Moda transportasi yang jalur dan jadwalnya telah diatur sedemikian rupa sehingga minim keterlambatan dan kecelakaan. Maka jika ada sebagian aspek dalam hidup saya yang bisa dibilang teratur, kereta api adalah salah satu inspirasinya.

Namun saya sadar, kenapa rasa kagum saya terhadap kereta api tidak bertambah-tambah: Di tempat saya tumbuh, tidak ada peran penting kereta api dalam menyokong jalannya transportasi massal. Kereta api di Kota Padang hampir seluruh porsi operasinya didominasi oleh kegiatan distribusi logistik dan industrial. Pertemuan saya dengan kereta api hanya terjadi jika saya diajak oleh Buya ke kantornya di Pelabuhan Teluk Bayur, di mana banyak kereta api lalu-lalang membawa batu bara, semen, dan peti kemas.

Kereta Bandara Internasional Minangkabau Padang

Tetapi seiring waktu berlalu, akhirnya ada kemajuan dalam dunia perkeretaapian, khususnya di Kota Padang. Pada tahun 2018 telah diresmikan kereta api penumpang yang dapat mengangkut penumpang dari Bandara Internasional Minangkabau (PDG) ke Stasiun Simpang Haru dengan memakan waktu hanya 40 menit.

Hampir setahun setelah kereta api tersebut dibuka untuk umum, barulah saya berkesempatan untuk mencoba bagaimana pelayanan kereta api bandara.

Perjalanan dimulai dari Stasiun Simpang Haru. Stasiun ini mulai dikembangkan kembali sejak proyek kereta bandara dicanangkan(sebelumnya hanya melayani penumpang kereta wisata dari Padang ke Pariaman”. Pembelian dilakukan di loket stasiun yang mempunyai ruangan tersendiri, jadi calon penumpang bisa nyaman mengantre karena ruangannya telah dilengkapi dengan AC.

Peron Stasiun Simpang Haru Padang
Peron Stasiun Simpang Haru Padang

Loket tempat membeli tiket masih memakai jasa petugas untuk transaksi, belum seperti stasiun kereta api bandara di Jakarta yang sudah memakai tenaga manusia dan mesin untuk pembelian tiketnya. Mungkin masih butuh waktu untuk mengajak masyarakat beralih dari pembelian tiket konvensional ke yang lebih otomatis.

Setelah saya membeli tiket, saatnya menunggu kereta datang. Untuk informasi, berikut jadwal Kereta Api Bandara Padang untuk keberangkatan menuju Bandara Internasional Minangkabau (BIM):

PadangTabingDuku
06:1506:3106:48
08:3508:5109:08
11:1011:2611:43
13:2013:3613:53
16:2016:3616:53

Untuk keberangkatan ke Stasiun Simpang Haru Padang:

BIMDukuTabing
07:4007:4908:06
09:4509:5410:11
12:1012:1712:36
14:4514:5415:09
17:5518:0218:21

Sembari menunggu, di Stasiun Simpang Haru tersedia tiga tempat makan yang bisa dipakai untuk bersantai. Dua warung makan di bagian luar stasiun, dan satu gerai Roti O. Saya memilih Roti O karena di sana menyediakan colokan untuk laptop dan smartphone (plus sinyal WiFi nya lumayan kuat, he he he).

Tiket Kereta Bandara Padang
Harga tiket Kereta Bandara Padang. Sangat murah, hanya 10.000 IDR.

Kereta datang 20 menit sebelum jadwal keberangkatan. Hal yang sangat saya apresiasi mengingat hampir semua pengguna jasanya merupakan calon penumpang maskapai penerbangan yang sangat sensitif dengan waktu.

Hal pertama yang saya sukai ketika menginjakkan kaki di dalam gerbong kereta adalah interiornya. Bersih (sangat wajar, mengingat kereta ini masih relatif baru), rapi, dan cukup mengakomodir kebutuhan penumpang yang akan pergi/baru pulang dari perjalanan jauh.

Interior Kereta Bandara Padang
Interior Kereta Bandara Padang

Tiap gerbong kereta terdiri dari 12 baris kursi, yang masing-masing barisnya diisi oleh empat kursi, dengan total 48 penumpang. Tiap sepasang baris, kursi dipasang berhadap-hadapan sehingga memaksimalkan ruang untuk kaki. Kursi yang dipakai cukup ergonomis, empuk dan kemiringan sandaran kursi yang nyaman. Tak lupa fitur yang paling penting: outlet listrik.

Perjalanan terasa sangat lancar. Dalam rute Stasiun Padang – BIM, kereta akan berhenti sebanyak dua kali di tengah perjalanan, yaitu di Stasiun Tabing, dan Stasiun duku. Waktu tempuh untuk rute Stasiun Padang ke Bandara Internasional Minangkabau pun hanya sekitar 40 menit saja, Sangat singkat dan terbebas dari rasa takut akan terjebak macet (yang walaupun sangat jarang terjadi di Padang).

Sesampainya di BIM pun, penumpang akan disambut oleh stasiun yang terlihat jelas sangat baru, terbukti dari Skybridge nya yang masih belum beroperasi. Untungnya pihak bandara tetap dapat mengakomodir kebutuhan penumpang yang membutuhkan transportasi lanjutan dari Stasiun BIM ke BIM itu sendiri: Bus shuttle. Bus shuttle bisa digunakan dengan gratis, untuk pergi dari dan ke Stasiun BIM.

Akhir kata, saya cukup menikmati perjalanan ke BIM menggunakan Kereta Bandara Padang. Adapun kekurangan dan kelebihannya sebagai berikut:

ProsCons
Murah. 10.000 IDR/perjalananJadwal sedikit
Gerbong nyaman, legaGerbong tidak terlalu banyak
Bebas macetStasiun masih minim sarana

Kereta Bandara Padang adalah salah satu moda transportasi yang sangat layak untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya, terutama untuk para pengguna rutin bandara yang tidak mau ambil risiko ketinggalan pesawat karena macet. Ditambah lagi penggunaan transportasi massal akan berdampak baik pada lingkungan dan mengurangi padatnya jalan raya.

Tags:

Leave a Reply